Senin, 22 Maret 2010

Menagatasi "Nervous" Saat Bicara di hadapan orang banyak

Menagatasi "Nervous" Saat Bicara di hadapan orang banyak - Berbicara di hadapan orang banyak merupakan hal yang mudah dilakukan oleh orang tertentu, tetapi cukup menegangkan bagi banyak orang. Satu hal yang menjadi penghalang utama untuk tampil dengan tenang adalah ketakutan untuk dinilai negatif. Bagaimana cara menyingkirkan ketakutan?
Melakukan presentasi adalah hal yang mudah dilakukan oleh sebagian orang, terutama oleh mereka yang profesional dalam bidang komunikasi atau public speaking. Namun, tidak semua orang mampu melakukan presentasi secara baik, memuaskan audiens.
Mereka yang gagal melakukan presentasi bukan saja para pemula yang kurang berpengalaman, melainkan juga orang-orang yang memiliki jam terbang tinggi sebagai eksekutif maupun yang aktif dalam kepengurusan berbagai organisasi.
Sebuah seminar diselenggarakan oleh salah satu institusi pendidikan ternama di Tanah Air beberapa waktu lalu. Peminat cukup banyak karena topiknya sangat menarik. Pembicaranya?
Seorang wanita manajer pemasaran dari sebuah perusahaan multinasional, yang katanya menerapkan strategi yang dipresentasikan. Ketika acara dimulai, terkesan pembicaraan dalam seminar itu bakal sangat menarik karena dibuka oleh seorang moderator yang berbicara dengan sangat menarik.


"Nervous" Saat Bicara? No Way!



Meremehkan Peserta
Namun, sungguh tak terduga, dari menit ke menit presentasi oleh narasumbernya sendiri ternyata sangat menyebalkan. Bagaimana tidak?
Dalam dua jam seminar yang direncanakan, narasumber menghabiskan waktu antara lain untuk game yang tidak ada hubungannya dengan topik seminar (dengan hadiah produk dari perusahaan tempat ia bekerja); untuk mengenalkan sebuah organisasi internasional yang di dalamnya ia duduk sebagai pengurus.
Bahkan, ia tidak lupa menampilkan kegiatan beserta foto-foto dirinya dalam organisasi tersebut. Terakhir, materi pokok yang ditunggu-tunggu oleh peserta seminar dipresentasikan dengan tergesa-gesa tanpa penguasaan yang baik.
Lebih buruk lagi, makalah yang dipresentasikan itu ternyata bukan hasil karyanya sendiri, melainkan 100 persen berupa materi karya orang lain yang telah diseminarkan pada forum organisasi internasional yang diurusnya itu.
Alhasil, dalam sesi diskusi yang dibuka pada menit-menit terakhir, hanya satu peserta yang mengangkat tangan untuk bertanya. Selebihnya yang tampak adalah wajah-wajah peserta yang bersungut-sungut kecewa.
Belajar Kembali
Sungguh runyam, seminar yang tiketnya dijual cukup mahal untuk para akademisi dan praktisi organisasi/perusahaan itu berakhir sangat mengecewakan. Pasalnya, narasumber terlalu berfokus pada keinginannya sendiri, membelokkan topik utama kepada hal-hal yang tidak relevan, tidak mengenali kebutuhan audiens, tidak menguasai materi presentasi, dan tidak mengerti aturan main presentasi.
Bercermin dari kasus tersebut, alangkah baiknya bila kita kembali belajar mengenai bagaimana melakukan presentasi secara efektif. Selain itu, mengingat besarnya kemungkinan timbul rasa cemas menjelang dan ketika melakukan presentasi, berikut disajikan tip presentasi efektif dan juga tip mengatasi ketakutan presentasi. Semuanya disarikan dari tulisan de Janasz, Dowd, & Schneider (2002).
Tip Presentasi Efektif
Sebelum presentasi
  • Teliti siapa audiens Anda: minat-minat dan keyakinan-keyakinan, jenis presentasi yang sesuai (berapa lama, bagaimana formatnya, dan jenis teknologinya).
  • Pilih pakaian yang tepat, sesuai dengan keadaan audiens Anda: kasual atau formal?
  • Siapkan apa yang akan Anda sampaikan: Anda tidak mungkin menuliskan semua kata yang akan disampaikan; buatlah daftar konsep apa saja yang akan disampaikan, dan kembangkan poin-poin percakapan yang mendukung konsep-konsep tersebut.
  • Latihan: berlatih mengucapkan poin-poin tersebut secara urut dan dengan tone percakapan.
  • Rileks: sesaat sebelum presentasi, pikiran harus jernih dan siap menjalankan tugas.
Selama presentasi
  • Mengawali dengan anekdot atau kutipan kata-kata.
  • Menyampaikan kerangka pemikiran kepada audiens.
  • Menyampaikan argumen inti (pentingnya topik yang disajikan) pada awal presentasi, didukung data.
  • Membangun sesi interaktif: ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk membantu audiens fokus pada presentasi.
  • Menggunakan teknologi, tetapi jaga supaya tetap komunikatif.
  • Usahakan menarik, tetapi tidak perlu terlewat entertaining (menghibur). Yang penting peserta dibuat berpikir.
  • Menutup dengan sebuah kutipan atau pesan penting untuk menegaskan esensi presentasi.
Sesudah presentasi
  • Mengevaluasi: katakan pada diri sendiri, kapan dan apa yang baik dilakukan pada presentasi yang akan datang.
  • Follow-up: siapkan dan kirim materi atau data yang Anda janjikan kepada audiens, dan sampaikan ucapan terima kasih secara formal kepada panitia atau pengelola acara. ( kompas.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar